MEGANDU : Permainan dalam Tradisi Agraris

Zaman dulu, tidak hanya orang tua yang melakukan aktivitasnya di sawah, tetapi juga anak-anak. Biasanya mereka menggembala sapi, menyabit rumput, mencari kayu bakar, memetik sayur, mencari capung, memancing ikan ataupun menangkap belut. Selain meringankan pekerjaan orang tua, anak-anak pun riang karena dapat menghabiskan waktu dengan bermain. Ya… bermain bersama di areal sawah.

Adalah Megandu, sebuah permainan anak yang sangat kental dengan budaya agraris, yang sangat erat hubungannya dengan lingkungan alam dan kehidupan sosial-budaya. Megandu merupakan permainan yang berasal dari Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, sebuah permainan yang dilakukan di areal persawahan pasca panen. Saat sawah mulai mengering usai panen, di sela-sela kegiatan membantu orang tua, anak-anak beramai-ramai melakukan permainan Megandu. Ada yang bermain, ada pula yang hanya sebagai supporter, pemberi semangat teman-temannya yang sedang bermain.

Megandu berasal dari kata gandu yang artinya melempar, jadi, Megandu adalah permainan lempar-lemparan dengan menggunakan bola yang dibuat dari sumi (jerami) atau disebut dengan bola gandu. Arena permainannya adalah petakan sawah dan dicari areal yang agak luas, karena jenis permainan ini biasa dimainkan baik anak-anak maupun remaja antara 10-20 orang (tergantung luas areal dan kesepakatan bersama antar pemain). Permainan diawali dengan membuat bola dari jerami yang banyak menumpuk di sawah setelah panen. Batang-batang jerami kering dibulatkan sedemikian rupa sehingga berbentuk seperti bola. Setiap peserta permainan wajib menyetor bola yang disebut sebagai telur burung Kerkuak. Sebatang kayu ditancapkan di tengah-tengah areal sawah. Seutas tali upas (tali yang dibuat dari pelepah pisang kering) sepanjang 3 atau 4 meter salah satu ujungnya diikatkan di batang kayu tadi. Kira-kira seperti cara orang desa mengikatkan tali saat menggembalakan sapi di lapangan rumput. Setelah bola (telur) itu terkumpul, lalu diletakkan di sekitar batang kayu itu.

Tibalah waktunya untuk bermain. Anak-anak melakukan suit (hompimpa) untuk menentukan anak yang bertugas sebagai Burung Kerkuak, sebagai penjaga telur. Anak-anak yang lain akan bertugas sebagai pencuri telur. Permainan Megandu pun dimulai. Burung Kerkuak sebagai ‘penjaga’ memegang ujung tali dan selanjutnya berlari berputar mengeliling kayu itu dan berusaha mengenai atau melilitkan tali pada anak-anak yang sedang berusaha mengambil telur. Sorak sorai pemain maupun supporter sangat ramai saat telur dapat dicuri, demikian pula saat burung Kerkuak ‘penjaga telur’ berhasil mengenai dan menangkap pencuri telur dengan talinya. Jika ada anak yang terkena tali, maka anak itu akan berganti menjadi penjaga telur. Ketika telur-telur jerami yang ada di tengah sudah habis dicuri saat itulah peserta yang mendapatkan telur jerami langsung melemparkannya ke arah tubuh si penjaga terakhir (digandu). Ibarat sebuah hukuman karena gagal melaksanakan tugas menjaga telur dari ulah pencuri.

Sepanjang penelusuran yang dilakukan ke beberapa pihak, permainan Megandu ternyata hanya ada di Banjar Ole, Marga Dauh Puri, Tabanan.  Permainan ini sudah dimainkan oleh warga Banjar Ole sejak tahun 1956 silam. Merujuk beberapa sumber lisan, pewarisan permainan ini sempat terputus, namun kembali digali berdasarkan ingatan masa kecil dari I Wayan Weda warga Banjar Ole.

Permainan Megandu dari tata cara, tempat bermain, dan alat-alat yang digunakannya, begitu kental dengan budaya agraris. Muncul untuk menghibur diri tatkala penat bekerja di sawah, meyadnya, dan menjalani tradisi lainnya. Sayang, perubahan zaman yang begitu pesat mengakibatkan perubahan aktivitas bermain anak saat ini. Mereka lebih sering bermain permainan modern yang identik dengan penggunaan teknologi seperti video games maupun games online. Akibatnya, permainan anak tradisional mulai terlupakan dan menjadi asing di kalangan anak-anak.  Budaya agraris seolah demikian berjarak dengan kehidupan anak-anak sekarang, permainan tradisional hanya dilaksanakan sebagian kecil dari masyarakat kita dan bahkan banyak dari permainan tradisional yang sudah mulai menghilang dan tidak dikenal lagi oleh masyarakat.

Museum Subak berusaha melakukan penggalian kembali, berusaha mengenalkan kembali permainan yang ada dalam tradisi agraris. Pendokumentasian baik dalam bentuk foto, video maupun penulisan dalam sebuah buku dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar ada data tentang permainan tradisional yang ada dan tumbuh serta berkembang dalam budaya agraris terdata dan terdokumentasi dengan baik. Semoga permainan Megandu tidak hanya akan disemayamkan dalam artikel-artikel, panggung-panggung pertunjukkan, dan pemikiran semata namun tetap  hidup dan dimainkan oleh masyarakat kita. Dan cita-cita untuk menjadikan Megandu sebagai Warisan Budaya Tak Benda Kabupaten Tabanan dapat terwujud.

 

 

Salam budaya, salam museum di hatiku.

Ida Ayu Nyoman Ratna Pawitrani